Penanaman 60.000 Mangrove, Upaya Menahan Abrasi dan Menyelamatkan Masa Depan Pesisir

Dermaga di ujung tanggul Dusun Blukang, Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Pasir Sakti, Lampung Timur, tampak lebih ramai pada Rabu, 4 Februari 2026. Jajaran pimpinan dan Staf PT Gunung Madu Plantations (PT GMP) hadir untuk mengikuti seremoni penanaman mangrove. Kegiatan penanaman mangrove ini merupakan bagian dari komitmen program CSR PT GMP terhadap pelestarian lingkungan sekaligus sebagai rangkaian peringatan 50 Tahun PT GMP di tahun 2025 melalui Yayasan Gunung Madu (YGM). Program ini menargetkan penanaman 60.000 bibit mangrove di kawasan pesisir Blukang sebagai respons terhadap ancaman abrasi yang selama bertahun-tahun menggerus wilayah tersebut.

Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur PT GMP Bapak Chong Seng Wai, jajaran kepala departemen, Ketua YGM Ibu Nisa Aryani, perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, serta unsur Muspika Kecamatan Pasir Sakti. Lokasi penanaman berada di kawasan hutan lindung Register 15 KPH Gunung Balak, yang dapat dicapai dengan menyeberangi Sungai Way Sekampung menggunakan perahu. Program ini dirancang sebagai program jangka panjang 2026–2030, dengan fokus utama pada keberlangsungan hidup mangrove. Untuk itu,PT Gunung Madu Plantations (GMP) menggandeng Yayasan Gunung Madu (YGM) menyiapkan mekanisme monitoring rutin, evaluasi berkala, dan penyulaman bibit agar mangrove dapat tumbuh optimal.

Selain berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan gelombang laut, mangrove juga diharapkan mampu memberdayakan masyarakat pesisir melalui potensi ekonomi dari produk olahan mangrove. Dalam sambutannya, Bapak Iwan Kurniawan menegaskan bahwa program ini merupakan komitmen nyata PT GMP dalam menjalankan CSR berkelanjutan sekaligus implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Upaya penanaman mangrove di pesisir Blukang tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerusakan lingkungan yang pernah terjadi. Berdasarkan citra satelit, pada 2011 jarak Dusun Blukang ke bibir pantai hanya 787 meter. Kerusakan mangrove yang cukup massif disebabkan eksploitasi berlebihan, termasuk alih fungsi menjadi tambak udang, membuat intrusi air laut semakin leluasa menggenangi daratan.

Kesadaran warga mulai tumbuh pada 2019, ketika penanaman mangrove kembali dilakukan secara bertahap. Dampaknya mulai terlihat: jarak dusun dari bibir pantai bertambah menjadi 1.183 meter. Upaya ini berlanjut hingga 2022, dengan perluasan area tanam yang memperkuat benteng alami mangrove dan mendorong jarak pantai menjadi 1.741 meter. Pada 2024, vegetasi mangrove yang semakin luas membuat jarak dari bibir laut kembali menjauh hingga 1.941 meter. Penanaman 60.000 bibit mangrove ini menjadi simbol komitmen bersama untuk menahan laju abrasi, melindungi pesisir, dan menjaga masa depan Dusun Blukang. Bukan sekadar seremoni, melainkan investasi lingkungan jangka panjang demi keberlanjutan wilayah pesisir Lampung Timur.

Berita Terkait

Berita Terkait

error: Content is protected !!

Bagikan artikel berikut

Facebook
Twitter
WhatsApp
LinkedIn